SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2014

Pantai Karang Nini_Ciamis, Jawa Barat. Indonesia


Wana wisata Karang Nini terletak di areal hutan produksi yang pengelolaanya oleh Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Ciamis tepatnya di desa Emplak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran dengan luas areal ± 75 Ha dan wana wisata pantai Karang Nini ini diresmikan oleh Direktur Utama Perhutani (Ir. Hartono Widjodarmodjo, MA)  pada hari Rabu tanggal 25 September 1985.
Aksesibilitas wana wisata Karang Nini ini terletak dijalur  jalan wisata pantai Pangandaran yang mana letaknya kearah jalan desa sejauh ± 2,5 km dimana infrastruktur menuju lokasi kurang baik, arah menuju lokasi dari pantai Pangandaran ± 9 km,  alat transportasi menuju lokasi dicapai melalui alat transportasi umum, baik itu bis, mini bis maupun elf dan dapat ditempuh melalui :

1.Garut – Tasikmalaya – Banjar – Ciamis – Kalipucang – lokasi objek sejauh  ±170 km
2.Bandung – Tasikmalaya – Banjar – Ciamis – Kalipucang – lokasi objek sejauh ± 210 km
3.Cirebon – Kuningan – Ciamis – Banjar – Kalipucang – lokasi objek sejauh ± 170 km

Potensi objek wisata ini adalah pantai yang membentang luas dengan batu karang sebagai tempat view ke arah pantai yang mana wana wisata Karang Nini ini merupakan objek wisata yang mampu menarik wisatawan sebanyak-banyaknya.

Wana wisata pantai Karang Nini memiliki fasilitas kantor informasi tentang wana wisata pantai Karang Nini, pondok wisata, mushola, warung/kedai, camping ground, play ground dan areal parkir seluas ± 300 meter, disamping itu pula di kawasan wana wisata pantai Karang Nini terdapat situs tempat ziarah makam  Syech Wali Kutub Cikabuyutan dan Anggasinga Wencana Bagaspati serta adanya hutan mangrove dan hutan tanaman jati 
sehingga wisatawan bisa mengamati atau mengobservasi jenis tumbuhan jati dan mahoni bahkan wisatawan bisa mengamati proses kegiatan pengelolaan hutan tanaman jati atau teak planttation forest management mulai dari kegiatan persemaian, pemeliharaan hutan sampai dengan kegiatan produksi. Disekitar hutan wana wisata pantai Karang Nini juga terdapat juga fauna yang sering dijumpai seperti kera dan lutung sedangkan satwa lain dikawasan wisata Karang Nini terdapat diantaranya landak, trenggiling, kancil dan ayam hutan.

Disamping itu pula di kawasan wisata pantai Karang Nini terdapat terowongan kereta api tua yang sudah tidak berfungsi lagi sejak tanggal 3 Pebruari 1981 oleh karena biaya operasionalnya yang tinggi. Terowongan kereta api tua ini bernama terowongan Wilhelmina yang mana terowongan kereta api ini merupakan terowongan terpanjang di Indonesia sejauh 1116 meter yang dibangun dalam rangka mendukung jalur kereta api rute Banjar – Cijulang sejauh ± 82 km, lokasi terowongan tua ini terletak diperbatasan antara desa Bagolo dan desa Emplak, Kabupaten Ciamis. Terowongan kereta api tua ini dibangun pada tahun 1914 oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen yang digunakan pada tanggal 1 Januari 1921.

Legenda dari pantai Karang Nini, yang konon menurut cerita masyarakat bahwa di kampung yang bernama Emplak atau Karang Tanjung tinggallah sepasang aki dan nini yang sakti bernama ambu kolot dan arga plara, kegemaran dari si aki adalah memancing ikan di laut, seperti biasanya pada suatu hari si aki pergi memancing sementara si nini menunggu di rumahnya, hari sudah petang si aki belum pulang pulang juga sehingga hati si nini menjadi gelisah dan dan khawatir terjadi sesuatu terhadap diri si aki, maka si nini menelusurinya sepanjang pantai sambil memanggi si aki diantara deburan ombak pantai namun malang sampai berganti malam si aki tetap tidak ditemukan dan penduduk setempat ikut membantu mencari si aki sampai penduduk sudah putus asa tidak menemukan si aki sehingga ditinggallah si nini di tepi pantai.

Dengan kesaktian si nini, maka memohon kepada sang ratu laut kidul agar bisa dipertemukan dengan si aki bagaimanapun keadaan si aki,tidak berapa lama kemudian menjelmalah dihadapan si nini sebuah batu karang dalam keadaan mengambang sebagai perwujudan jasad si aki yang saat ini batu karang tersebut bernama “Bale Kambang” yang konon jika berdiri di atas batu karang tersebut akan terasa seolah - olah bergoyang.
Didorong oleh keinginan untuk membuktikan rasa cinta si nini kepada si aki sekaligus sebagai bentuk kesetiaannya, maka si nini bersemedi kembali memohon kepada nyi loro kidul agar dirinya selalu dekat dengan si aki, maka menjelmalah batu karang yang menghadap ke laut  arah Bale Kambang.
Kisah kasih sini dan si aki tersebut sampai saat ini masih kokoh terabadikan melalui 2 (dua) batu karang, yaitu Batu Karang Nini dan Bale Kambang.  

Objek Wisata Karang Nini memiliki kendala kurang baiknya  infrastruktur menuju lokasi dan belum tertata dengan baik sesuai dengan standar pariwisata sehingga perlu dibenahi dan dikaji serta perlu adanya sinergitas kebijakan yang harmonis dan tersinkronisasi secara konstruktif yang membangun antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kabupaten Pangandaran dalam rangka membangun objek wisata Karang Nini sebagai bagian dari kawasan wisata unggulan Pangandaran yang diharapkan akan menjadikan salah satu kawasan wisata berkelas internasional.

Salah satu upaya menuju pariwisata berkelas dunia,  peranan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata perlu disiapkan selain pembangunan infrastruktur menuju lokasi objek juga pemahaman sadar wisata bagi masyarakat sekitarnya perlu ditingkatkan akan pentingnya keberadaan objek wisata di sekitar kawasan wisata Pangandaran sekaligus pemahaman Sapta Pesona, yaitu aman, nyaman, bersih, sejuk, indah, tertib dan kenangan yang menyenangkan bagi pengunjung atau wisatawan perlu diperhatikan baik itu berupa cinderamata maupun suasana lingkungan disekitar objek wisata, hal tersebut kedepan sekitar kawasan wisata Pangandaran dapat dijadikan primadona unggulan pariwisata Jawa Barat  sebagai bagian mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat disekitar kawasan wisata Pangandaran.

Kawasan wisata Pangandaran dapat dijadikan satu paket wisata unggulan untuk menarik wisatawan, mulai dari paket wisata pantai Pangandaran, Green Canyon, Batu Hiu,  Pantai Karang Nini dan objek wisata lainnya di sekitar kawasan wisata Pangandaran, dan bilamana ditata dengan baik dari semua sektor, maka akan menjadikan kawasan wisata yang tidak kalah dengan kawasan wisata di Bali.

Patilasan Sunan Kalijaga_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Di Jalan Pramuka berjarak sekitar 1 km kearah barat daya Terminal Bus Harjamukti pada sisi barat Kali Sipadu terdapat Petilasan Sunan Kalijaga. Lokasi ini sangat mudah dicapai dengan berbagai kendaraan, ± 5 km dari pusat kota Cirebon dengan waktu tempuh ± 20 menit. Lokasi yang berada di tengah pemukiman penduduk Kampung Kalijaga, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti ini tepatnya berada pada koordinat 06º 44' 891" Lintang Selatan dan 108º 33' 083" Bujur Timur. 

Kawasan komplek Petilasan Sunan Kaligaga luasnya ± 20.000 m2. Kawasan ini dilalui dua aliran sungai, yang masing-masing mempunyai dua sampai tiga nama yang berbeda. Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Mesjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dam cuci pakaian, dahulu kali ini juga dapat digunakan untu wudlu. Pada kawasan itu terdapat bangunan patilasan, sumur kuno, mesjid keramat, makam dan selebihnya berupa semacam hutan lindung yang dihuni kera.
Bangunan Petilasan Kalijaga oleh penduduk setempat disebut Pesarean (dari kata Jawa yang berarti tempat beristirahat). Bangunan ini berdenah bentuk huruf L terdiri tiga ruangan. Ruangan pertama merupakan tempat bagi para penziarah untuk memanjatkan doa, yang dapat dimasuki melalui pintu pertama yang disebut  Pintu Bacem. Ruang kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan ruangan ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu. 

Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Bagian ini dibatasi dengan dengan kuta kosod (susunan bata merah) setinggi ± 120 cm dan tebal ± 90 cm. Menurut cerita rakyat, ketika Cirebon “dikuasai” VOC, lokasi ini pernah dijadikan tempat pertemuan para panglima perang Kesultanan Kanoman, Kasepuhan, dan Mataram untuk menyusun strategi melawan mereka.

Bangunan Mesjid Keramat di kompleks petilasan Sunan Kalijaga dahulu dindingnya terbuat dari kayu dan aber atap daun kelapa (welit, blarak). Sekarang sudah diganti dengan dinding bata diplester dan beratap genting. Di pinggir kali dekat mesjid terdapat Sumur Kuno. Konon sumur kuno ini umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Sumur ini juga disebut Sumur Wasiat. Di dekat Kali Simandung terdapat makam keramat dengan tokoh yang dimakamkan adalah Syech Khotim. Beliau adalah kepercayaan Sunan Kalijaga.

Hutan lindung di kawasan petilasan Sunan Kalijaga, ditumbuhi beberapa jenis pohon besar, seperti bebang, repilang, rengas, dan albasia. Kerimbunan pepohonan ini mendominasi pemandangan. Pada rindangnya pepohonan tersebut akan tampak kera-kera yang saling bergelantungan dan berkejaran. Pada pagi hari mereka turun, dan duduk berbaris di tepi kali, ada juga diantaranya yang tampak mencari kutu. Mereka juga akan turun, jika ada pengunjung, terutama yang terlihat membawa makanan. Pada saat ini populasi mereka sekitar 72 ekor. Hutan lindung ini disebut Taman Kera Kalijaga.

Kondisi sekarang ini, keberadaan pohon besar cenderung semakin berkurang, tergusur permukiman dan tempat usaha. Akibatnya, kera-kera penghuni kekurangan pangan, sehingga kerapkali memasuki rumah penduduk, bahkan ada di antarannya dengan cara merusak atap. Kerusakan “habitat” ini pula yang menyebabkan sebagian diantara mereka bermigrasi ke kampung lain.

Salah satu keistimewaan kawasan ini juga memiliki beberapa legenda, di antaranya legenda Si Lorong yang berhubungan dengan pembuatan kain tenun, legenda satu orang raja dengan 11 punggawa, legenda si Mandung (Syekh Khotim), legenda kera dan Legenda Jimat Layang Kalimursadat.

Menurut cerita tutur, Sunan Kalijaga pernah menetap beberapa kali di Cirebon cukup lama dalam kurun waktu yang berbeda. Kedatangannya yang pertama bertujuan untuk menimba ilmu. Kedatangan yang kedua dalam rangka melaksanakan tugas sebagai wali. Kali terakhir Sunan Kalijaga menetap di Cirebon dalam rangka merintis pembangunan Kerajaan Cirebon. Konon, dahulu Sunan Kalijaga sempat mengajar membuat kain tenun pada masyarakat setempat, sehingga hampir semua penduduk dapat melakukannya. Lambat laun daerah itupun berkembang menjadi “sentra” jual beli kain tenun. Akan tetapi, sejak kedatangan Belanda dan dilanjutkan oleh pendudukan Jepang, aktifitas pembuatan kain tenun semakin menyurut, hingga tidak nampak lagi. Masih menurut cerita tutur, Sunan Kalijaga terkenal sebagai ahli membatik dan sempat mengajarkannya kepada masyarakat setempat. Nyi Rupi’ah adalah orang terakhir yang mempertahankan pembuatan batik tulis khas Kalijaga. Sangat disayangkan sekali mulai tahun 1972 masyarakat setempat berhenti melakukan kegiatan membuat batik.

Patilasan Pangeran Drajat_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Kembalilah ke masa silam sejenak. Pada zaman dahulu, Patilasan Pangeran Drajad  adalah tempat persinggahan dan bermukim Pangeran/Sunan Drajat di Cirebon dalam persiapannya untuk melakukan perebutan Sunda Kelapa (Batavia) dengan para wali lainnya di tahun tahun 1526. Perhatikan bentuk sebuah makam dari susunan bata merah yang dicat putih dengan nisan dari batu andesit berukir corak kembang. Patilasan ini terletak di antara makam Nyi Mas Ageng Pancuran dan Pangeran Sifat Luhung, yang mana keduanya merupakan dua orang santri yang meneruskan syiar Islam yang telah dirintis oleh Pangeran Drajad. Ketiga makam ini ditutup kain putih dan dilindungi dengan kelambu putih serta dinaungi oleh dua cungkup. Anda dapat mengunjungi makam ini banyak bersama para peziarah lainnya pada hari Rabu Pon, Jum’at Kliwon, dan pada puncaknya di bulan Maulud.

Keraton Kacirebonan_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Bangunan Keraton Kacirebonan berada di Jl. Pulosaren No. 48 ini, mempunyai ukuran relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman mungkin lebih pantas disebut dengan Puri Kacirebonan. Secara administratif Puri Kacirebonan berada di Kampung Pulosaren, Kelurahan Pulosaren, Kecamatan Pekalipan. Lokasi keraton yang berada pada pedataran rendah di tengah pemukiman penduduk ini berada pada koordinat 06º 43' 488" Lintang Selatan dan 108º 33' 921" Bujur Timur. 
Lahan kompleks puri luasnya ± 46.500 m2. Bangunan Puri Kacirebonan berdenah empat persegi panjang memanjang arah utara – selatan, menghadap ke utara. Luas keseluruhan bangunan keraton termuda di Cirebon ini sekitar 38.787 m2., yang terdiri dari bangunan Induk, Paseban, Langgar, Gedong Ijo, Pringgowati dan Kaputren.

a) Bangunan Induk
Bangunan induk merupakan bangunan inti dan sebagai tempat tinggal sehari-hari sultan beserta keluarganya. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan antara lain ruang tidur, ruang kerja sultan, pecira, kamar jimat, prabayasa, dapur dan teras (berfungsi sebagai ruang tunggu bila prajurit rendahan ingin menghadap Sultan).

b) Paseban
Bangunan Paseban ada dua, yaitu di barat dan timur, berdenah persegi panjang. Paseban barat menghadap timur ditompang oleh 8 buah tiang dan 4 sokoguru dan merupakan bangunan semi terbuka. Dinding sisi barat dan timur dipagari dengan tembok rendah, atapnya berbentuk joglo dengan penutup genteng. 

c) Langgar
Langgar ini terletak di sebelah barat bangunan induk. Antara langgar dan paseban dipisahkan oleh tembok namun ada pintu penghubung di sisi barat tembok. Pelataran keraton ke arah selatan pada pagar tembok terdapat gapura koriagung beratap joglo, yaitu pintu agung utama.

d) Gedong Ijo
Gedong Ijo menghadap ke timur dan berdenah persegi panjang. Ruang dalam dibagi tiga, yaitu ruang utara dan ruang selatan yang ditempati oleh keluarga sultan sedangkan ruang tengah kosong. 

e) Pringgowati, 
Ruang tengah yang dinamai Pringgowati dimana terdapat benda-benda kebesaran keraton, berfungsi sebagi tempat istirahat sultan. Di sebelahnya terdapat ruang pinangeran, yang digunakan sebagai tempat tinggal kerabat sultan dan tempat penyimpanan alat-alat perayaan Muludan.

f) Kaputran dan Kaputren
Tempat peristirahatan putra dan putri Sultan.

Keraton Kacirebonan didirikan pada tahun 1808 M oleh Pangeran Anom di tanah seluas 45.500 m2. pembanguan Keraton Kacirebonan dilatarbelakangi oleh penggantian Sultan Anom IV (Sultan Anom Muhamad Khaerudin) yang wafat pada tahun 1802 M, yang secara erat mestinya digantikan oleh anak laki-laki atau anak tertua. Akan tetapi, karena Sultan Anom IV memiliki anak laki-laki kembar maka pada tahun 1807 Gubernur Jendral Daendels memutuskan bahwa keduanya mendapat gelar sultan. Pangeran Raja Kanoman, salah seorang anak kembar itu, ditetapkan sebagai Sultan Kacirebonan sampai akhir hayatnya. Namun, keturunan Sultan Kacirebonan ini tidak dapat melanjutkan kedudukan sebagai sultan, cukup dengan pangeran saja. Jadi, yang diangkat sebagai pegawai pemerintah kolonial Belanda hanya Pangeran Raja Kanoman pribadi. Selain itu Puri Kacirebonan pun tidak memiliki daerah kekuasaan. Untuk putera Sultan Anom IV yang satu lagi, yaitu Pangeran Abusaleh Imamuddin oleh Daendels ditetapkan sebagai Sultan Anom V, dan keturunannya dapat menggunakan gelar sultan, dan menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda, ketika Inggris mengambil kekuasaan Belanda di Pulau Jawa, keputusan Daendels ini tidak diubah lagi. Sejak tahun 1997 Keraton Kacirebonan dipimpin oleh P.R. Abdul Gani Natadiningrat.

Pembanguan Puri Kacirbonan dilakukan secara bertahap. Pada tahun 1808, Raja Kanoman hanya mendirikan bangunan induk, Paseban dan langgar. Pada tahun 1875 Pangeran Dendawijaya yang bergelar Raja Madenda membangun Gedong Ijo, sedangkan Pringgowati dibangun pada masa Pangeran Partaningrat Madenda III yang memimpin keraton ini pada tahun 1915-1931.  

Keraton Kanoman_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Keraton Kanoman berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk. Keraton yang berada pada pedataran pantai ini tepat pada koordinat 06º 43' 15,8" Lintang Selatan dan 108º 34' 12,4" Bujur Timur. Di sebelah utara keraton terdapat pasar tradisional, sedangkan di sebelah selatan dan timur merupakan pemukiman penduduk. Di sebelah barat keraton terdapat sekolah Taman Siswa.
Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I, pada sekitar tahun 1510 Šaka atau 1588 M. Titimangsa ini mengacu pada prasasti berupa gambar surya sangkala dan Keraton Sangkala yang terdapat pada pintu Pendopo Jinem menuju ruang Prabayasa berupa “matahari” yang berarti 1, “wayang Dharma Kusuma” yang berarti 5, “bumi” yang berarti 1 dan “bintang kemangmang” yang berarti 0. Jadi, chandr sangkala itu menunjukan angka tahun 1510 Šaka atau 1588 M. Sementara sumber lain menyebutkan bahwa angka pembangunan Keraton Kanoman adalah bersamaan dengan pelantikan Pangeran Mohamad Badridin menjadi Sultan Kanoman dan bergelar Sultan Anom I, yang terjadi pada tahun 1678-1679 M.

Salah satu bangunan penting yang terdapat dalam komplek Keraton Kanoman adalah Witana. Witana berasal dari kata “awit ana” yang berarti bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika membentuk Dukuh Caruban. Dalam kakawin Nagarakertagama bangunan witana adalah berupa panggung kayu sementara dengan atap tanpa dinding tempat persemayaman raja sementara waktu. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Cirebon adalah salah satu kota tua di Pulau Jawa. Menurut Babad Cerbon yang diindonesiakan oleh Pangeran Sulaeman Suleendraningrat (1984), Cirebon bermula dari pendukuhan kecil. Pendukuhan ini telah terbentuk sejak abad ke 15, yaitu sekitar 1 sura 1367 Hijriah atau 1445 M dirintis oleh Ki Gede Alang-alang dan kawan-kawan. Dukuh Cirebon ini dilengkapi pula dengan Keraton Pakungwati dan Tajug Pejlagrahan yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (penerus/pengganti Ki Gede Alang-alang) pada tahun 1452 M. Pada masa itu dukuh ini telah berkembang dengan penduduk dan mata pencaharian yang beragam. Oleh karena itu, dukuh ini juga pernah disebut caruban yang berarti campuran.

Keraton Kanoman merupakan satu kompleks dengan denah empat persegi panjang dari arah utara – selatan. Menurut arsitekturnya tata ruang komplek ini dibagi 4 bagian, yaitu bagian depan kompleks, halaman pertama, halaman kedua, halaman ketiga.

a) Bagian Depan Kompleks
Di bagian ini terdapat bangunan Cungkup Alu, Cungkup Lesung, Pancaratna, dan Pancaniti. Cungkup Alu berupa bangunan terbuka berukuran 0,7 x 1 x 1,5 m dan terbuat dari bahan kayu. Atap genteng didukung oleh 4 tiang. Cungkup Lesung merupakan bangunan terbuka berukuran 0,7 x 1 x 1,5 m dan terbuat dari bahan kayu. Atap genteng didukung oleh 4 tiang. Bangunan Pancaratna merupakan bangunan kayu tanpa dinding yang terletak disebelah barat pintu masuk.   Bangunan ini di kanan depan kompleks yang menghadap utara berbentuk bujursangkar dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai keramik  Bangunan terbuka, hanya ada tiang-tiang yang mendukung atap sirap. Berfungsi sebagi tempat seba atau tempat para pembesar desa menghadap Demang atau Wedana atau tempat jaga bintara kerajaan. Sedangkan bangunan Pancaniti adalah bangunan kayu tanpa dinding yang terletak di sebelah timur pintu masuk, menghadap utara berbentuk persegi panjang dengan ukuran 8 x 10 m. Lantai keramik. Bangunan ini terbuka, hanya ada tiang-tiang yang mendukung atap sirap. Fungsinya sebagai tempat perwira melatih prajurit dalam perang-perangan, tempat istirahat perwira dari pelatihan perang dan tempat pengadilan atau sebagai tempat jaga prajurit kerajaan.

b) Halaman Pertama
Halaman ini disebut lemah duwur (tanah tinggi). Memang tanah ini lebih tinggi dari bagian lainnya. Halaman ini dipagar setinggi 1,30 m dengan bahan bata. Pagar utara, barat dan selatan terdapat pintu gerbang bentar. Di utara berukuran tinggi 3 m dan lebar 4 m. Di barat tinggi 5 m dan lebar 4 m. Di selatan tinggi 2,50 m dan lebar 2 m. Di halama ini terdapat 2 bangunan, yaitu :

• Balai Manguntur; Bangunan menghadap utara ini berukuran 6,5 x 6,5 x 5 m. Bangunan ini menggunakan bahan bata, lantai keramik yang berundak dua. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Dinding-dindingnya melengkung ke atas terkesan menyerupai gerbang.. Di dalamnya terdapat balai berukuran 1,50 x 1,50 m untuk tempat duduk Sultan. Atapnya sirap berbentuk kerucut. Secara keseluruhan bangunan ini diperindah dengan hiasan keramik-keramik piring yang ditempelkan sebagai tempat pertunjukan yang dipersembahkan untuk raja.

• Panggung; Bangunan ini menghadap barat berukuran 6 x 10 x 5 m. Lantai keramik. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Hanya ada tiang-tiang yang mendukung bubungan dengan bentuk limas an terpotong dan menggunakan atap sirap. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pertunjukan yang dipersembahkan untuk raja.

c) Halaman Kedua
Halaman kedua berdenah bentuk  huruf “L”,  terdapat dua bangunan, yaitu : Bale Paseban dan Gerbang Seblawong di sisi utaranya.

• Bale Paseban; Banguna yang menghadap barat ini berukuran 12 x 12 x 4 m. Bangunan ini menggunakan bahan kayu dan lantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang mendukung atap sirap limasan terpotong ini dari tiang satu ke tiang lainnya terkesan berbentuk seperti pagar terali kayu. Bangunan ini berfungsi tempat tunggu untuk giliran menghadap Sultan.

• Gerbang Seblawong; Gerbang yang menggunakan bata ini berbentuk paduraksa dengan ukuran tinggi 9 m, lebar 4,80 m dan tebal 2 m. Bangunan yang kokoh ini terkesan bergaya kolonial. Di samping besarnya yang sangat mencolok, bangunan ini memiliki ragam hias tiang-tiang yang samara dengan pelipit vertikal dan horizontal, di tengah-tengahnya dihubungkan dengan pelipit vertikal dan melengkung. Di bawah lengkungan ini merupakan batas pintu yang terbuat dari kayu jati. Seluruh bangunan ini diberi hiasan piring-piring keramik yang ditempelkan pada selruh permukaan pintu gerbang. Pintu gerbang ini dibuka hanya pada waktu perayaan Maulud Nabi Muhammad S.A.W..

d) Halaman Ketiga
Antara halaman ketiga dan halaman ke empat dibatasi pagar terbuat dari bata setinggi 1,50 m. Di halaman  ini terdapat sejumlah bangunan, yaitu :

• Tempat Lonceng disebut juga gajah mungkur. Bangunan ini menghadap ke timur, berfungsi sebagai tempat menyimpan lonceng dengan ukuran 3 x 2 x 2,5 m. Lantainya hanya merupakan plur semen. Dinding tembok dan atapnya genteng.

• Bale Semirang merupakan bangunan yang menghadap timur, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3 x 6 x 3 m. Bangunan ini sangat sederhana, lantainya hanya plur semen. Bangunan ini terbuka tanpa dinding dengan atap sirap berbentuk limasan. Bangunan ini berfungsi untuk memberikan informasi. Dahulu tempat ini digunakan untuk tempat bermusyawarah dengan sultan.

• Langgar Kanoman merupakan bangunan tempat shalat. Bangunan ini sangat sederhana berukuran 6 x 8 x 3,5 m memiliki lantai tegel, dinding tembok dan atap genteng dengan bentuk limasan.

• Paseban Singabrata merupakan tempat jaga perwira keraton. Bangunan ini menghadap ke arah barat, berukuran 8 x 10 m. Lantai dari bahan keramik, terbuka tanpa dinding. Terdapat beberapa tiang menunjang atap sirap dengan bentuk limasan. Bangunan ini berfungsi sebagai ruang tunggu menghadap sultan.

• Jinem adalah bagian ruang sultan dengan arah hadap utara dan berukuran 12 x 8 m dengan lantai keramik. Ruang ini berfungsi sebagai tempat para pembesar menghadap Sultan.

• Kaputren merupakan tempat tinggal putra dan putri sultan. Bangunan yang bergaya kolonial ini digunakan sebagai rumah tinggal anak-anak Sultan yang laki-laki. Bangunan ini terbuat dari bahan tembok.

Keraton Kasepuhan_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Sebagai kota yang dibangun pada masa perkembangan Islam, pusat kota Cirebon berada di sekitar alun-alun. Di sebelah selatan alun-alun terdapat Keraton Kasepuhan. Secara administratif keraton ini berada di wilayah Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk tepatnya pada koordinat 06º 43' 559" Lintang Selatan dan 108º 34' 244" Bujur Timur. Seluruh kompleks keraton luasnya sekitar ± 185.500 m2 yang dibatasi oleh Jl. Kasepuhan di sebelah utara, timur Jl. Mayor Sastraatmaja, selatan Kali Kriyan, dan di sisi barat terdapat pemukiman penduduk.

Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 oleh Pangeran Cakrabuana, merupakan perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati. Keraton Pakungwati atau yang dikenal juga Dalem Agung Pakungwati merupakan cikal bakal Keraton Kasepuhan. Keraton Pakungwati yang terletak di sebalah timur Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Raja Pajajaran) pada tahun 1452, berati bersamaan dengan pembangunan Tajug Pejlagrahan yang berada di sebelah timurnya. Pada tahun 1479 keraton ini diperluas dan dilebarkan. Luas situs pertama di Cirebon ini sekitar 4900 m2, mempunyai tembok keliling sendiri, keadaan bangunannya sekarang tinggal reruntuhannya saja. Di lokasi tersebut terdapat sisa-sisa bangunan, gua buatan, sumur dan taman.
Pada abad ke-16 Sunan Gunung Jati mangkat, digantikan oleh cicitnya yang bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin dan bergelar Panembahan Pakungwati I. Pada tahun 1529 beliau membangun keraton baru di sebelah barat daya keraton lama. Keraton baru ini juga dinamai Keraton Pakungwati, mengabdikan nama puteri Pangeran Cakrabuana atau buyut sultan, yang gugur pada tahub 1549 ketika ikut memadamkan kobaran api yang membakar Mesjid Agung Sang Cipta Rasa.

Pada tahun 1969 Kesultanan Cirebon dibagi dua menjadi Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan. Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya dan bergelar Sultan Anom I, sementara Kesultanan Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I. Kedua sultan ini kakak beradik, dan masing-masing menempati Keraton sendiri. Sultan Sepuh I menempati Keraton Pakungwati, yang kemudian berganti nama menjadi Keraton Kasepuhan.

Pintu gerbang utama Keraton Kasepuhan terletak di sebelah utara dan pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit  berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut lawang sanga (pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg (jembatan) Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton. Di bagian ini terdapat dua bangunan yaitu Pancaratna dan Pancaniti.

Bangunan Pancaratna berada di kiri depan kompleks arah barat berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 x 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa atau kampong yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar terali besi.

Bangunan Pangrawit berada di kiri depan kompleks menghadap arah utara. Bangunan ini berukuran 8 x 8 m, berantai tegel. Bangunan ini terbuka tanpa dinding. Tiang-tiang yang berjumlah 16 buah mendukung atap sirap. Bangunan ini memiliki pagar terali besi. Nama Pancaniti berasal dari panca berarti jalan dan niti berarti mata atau raja atau atasan. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat perwira melatih prajurit dalam perang-perangan, tempat istirahat, dan juga sebagai tempat pengadilan.

a) Halaman Pertama
Setelah melewati Pancaratna dan Pancaniti selanjutnya memasuki halaman pertama. Untuk memasukinya bisa melewati Gapura Adi atau Gapura Banteng. Gapura Adi berupa pintu gerbang berbentuk bentar berukuran 3,70 x 1,30 x 5 m menggunakan bahan bata. Gapura Adi ini berada di utara Siti Inggil. Gapura Benteng berupa pintu gerbang dengan bentuk bentar berukuran 4,50 x 9 m. Pintu ini lebih besar dan tinggi daripada Gapura Adi. Pada pipi tangga sebelah timur terdapat stilirisasi bentuk banteng.
Halaman pertama merupakan komplek Siti Inggil, di komplek terdapat beberapa bangunan, antara lain Mande Pendawa Lima yang berfungsi untuk tempat duduk pengawal Raja, Mande Malang Semirang yang berfungsi sebagai tempat duduk raja timadu menyaksikan acara di alun-alun, Mande Semar Timandu adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat duduk penghulu atau penasehat raja. Mande Karesmen yaitu bangunan sebagi tempat menampilkan kesenian untuk raja, dan Mande Pengiring yaitu bangunan sebagai tempat mengiring raja. Selain bangunan tersebut masih ada satu bangunan lagi yaitu bangunan Pengada. Bangunan ini berukuran 17 x 9,5 m, berfungsi sebagai tempat membagi berkat dan tempat pemeriksaan sebelum menghadap raja. 

b) Halaman Kedua
Halaman kedua dibatasi tembok bata. Pada pagar bagian utara terdapat dua gerbang yaitu Regol Pengada dan gapura lonceng. Regol Pengada merupakan pintu gerbang masuk halaman ketiga dengan ukuran panjang dasar 5 x 6,5 m. Gerbang yang berbentuk paduraksa ini menggunakan batu dan daun pintunya dari kayu. Gapura Lonceng terdapat di sebelah timur Gerbang Pangada dengan ukuran panjang dasar 3,10 x 5 x 3 m. Gerbang ini berbenduk koriagung  (gapura beratap) menggunakan bahan bata.    

Halaman kedua ini terbagi dua, halaman Pengada dan halaman untuk kompleks Langgar Agung. Halaman Pengada berukuran 37 x 37 m yang berfungsi untuk memarkirkan kendaraan atau menambatkan kuda. Di halaman ini dahulu ada sumur untuk memberi minum kuda. Halaman kompleks Langgar Agung merupakan halaman di mana terdapat bangunan kompleks Langgar Agung. Bangunan Langgar Agung menghadap ke arah timur, memiliki bangunan utama dengan ukuran 6 x 6 m. Teras 8 x 2, 5 m. Jadi bangunan ini berbentuk “T” terbalik Karena teras depan lebih besar dari bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu setengah dari permukaan lantai, kemudian setengah bagian atas diberi terali kayu. Dinding bangunan utama merupakan dinding tembok. Mihrab berbentuk melengkung berukuran 5 x 3 x 3 m. Di dalam mihrab tersebut terdapat mimbar terbuat dari kayu berukuran 0,90x 0,70x2 m.

Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang dua dengan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Langgar Agung ini memiliki halaman dengan ukuran 37 x 17 m. Langgar ini berfungsi sebagai tempat ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar Agung dilengkapi pula dengan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke timur ini berdenah bujursangkar berukuran 4 x 4 m yang di dalamnya terdapat bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, penutup atap didukung 4 tiang utama dan 5 tiang pendukung.

c) Halaman Ketiga
Antara halaman kedua dan ketiga dibatasi tembok dengan gerbang berukuran 4x6,5 x 4 m. Gerbang tersebut dilengkapi dua daun pintu terbuat dari kayu, jika dibuka dan ditutup akan berbunyi maka disebut pintu gledeg (guntur) . Di halaman ketiga terdapat sejumlah bangunan sebagai berikut.

d) Taman Bunderan Dewandaru
Taman ini berdenah bulat telur terbuat dari batu cadas. Memiliki arti dari namanya Bunder artinya sepakat. Dewa berarti dewa atau mahluk halus dan ndaru artinya cahaya. Arti keseluruhan adalah “orang yang menerangi sesama mereka yang masih hidup dalam masa kegelapan”. Luas taman 20 m2. Di taman ini terdapat nandi, pohon soko sebagai lambing bersuka hati, 2 patung macan putih merupakan lambang Pajajaran, meja dan bangku 2 buah meriam yang dinamai Ki Santomo dan Nyi Santoni.

e) Museum Benda Kuno
Bangunan yang menghadap timur berbentuk “E”. Terdapat 2 pintu untuk memenuhi bangunan tersebut. Di sini disimpan benda-benda kuno Keraton Kasepuhan.

f) Museum Kereta
Bangunan ini menghadap barat dan teat di timur Taman Bunderan Dewandaru ini berukuran 13,5 x 11 m. Di Museum Kereta tersimpan kereta-kereta dan barang lainnya

g) Tunggu Manunggal
Bangunan ini berupa batu pendek ± 50 cm, dikelilingi 8 buah pot bunga yang melambangkan Allah yang satu zat sifatnya.

h) Lunjuk
Bangunan yang menghadap timur ini berukuran 10 x 7 m yang berfungsi melayani tamu dalam mencatat dan melaporkan urusannya menghadap raja.

i) Sri Manganti
Bangunan ini berada di timur tugu manunggal berbentuk bujursangkar. Bangunan ini terbuka tanpa dinding, bungbungan berbentuk joglo dan atap genteng didukung dengan 4 tiang soko guru, 12 tiang tengah dan 12 tiang luar. Langiut-langit dipenuhi ukiran-ukiran yang berwarna putih dan coklat. Bangunan ini bernama Sri Manganti karena arti sri artinya raja, manganti artinya menunggu. Sehinggra artinya secara keseluruhan tempat menunggu keputusan raja.

j) Bangunan Induk Keraton 
Bangunan induk keraton merupakan tempaty aktifitas Sultan, dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda, yaitu :

• Kuncung dan Kutagara Wadasan dibangun pada tahun 1678 oleh Sultan Sepuh 1.  Kuncung berupa bangunan berukuran 2,5 x 2,5 x 2,5 m yang digunakan parkir kendaraan sultan. Kutagara Wadasan adalah gapura yang bercat putih dengan gaya khas Cirebon berukuran lebar 2,5 m dan tinggi ± 2,5 m. Gaya Cirebon tampak pada bagian bawah kaki gapura yang berukiran wadasan dan bagian atas dengan ukiran mega mendung. Arti ukiran tersebut seseorang harus mempunyai pondasi yang kuat jika sudah menjadi pimpinan atau sultan harus bisa mengayomi bawahan dan rakyatnya.

• Jinem Pangrawit yaitu bangunan yang berfungsi sebagai serambi keraton. Nama jinem Pangrawit berasal dari kata jinem atau kajineman berarti tempat tugas dan Pangrawit berasal dari kata rawit berate kecil, halus atau bagus. Lantai marmer, dinding tembok berwarna putih dan dihiasi keramik Eropa. Atap didukung 4 tiang sokoguru kayu dengan umpak beton. Ruangan ini digunakan sebagai tempat Pangeran Patih dan wakil sultan dalam menerima tamu.

• Gajah Nguling yaitu ruangan tanpa dinding dan terdapat 6 tiang bulat bergaya tiang tuscan setinggi 3 m. Lantai tegel dan langit-langit berwarna hijau. Ruangan ini tidak memanjang lurus tapi menyerong (membengkok) dan kemudian menyatu dengan bangsal Pringandani. Bentuk ruangan ini mengambil bentuk gajah yang sedang Nguling (menguak) dengan belalainya yang bengkok. Ruangan ini dibangun oleh Sultan Sepuh IX pada tahun 1845.

• Bangsal Pringgandani merupakan ruangan yang berada di sebelah selatan ruangan Gajah Nguling. Ruangan ini memiliki 4 tiang utama segi empat berwarna hijau yang berfungsi sebagai tempat menghadap para Bupati Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka. Sewaktu-waktu dipakai pula sebagai tempat sidang warga keraton.

• Bangsal Prabayasa berada di selatan bangsal Pringgandani. “Prabayasa” berasal dari kata praba artinya sayap dan yasa artinya besar. Kata-kata tersebut mengandung arti bahwa Sultan melindungi rakyatnya dengan kedua tangannya yang besar. Pada dinding ruangan terdapat relief yang diberi nama Kembang Kanigaran berarti lambing kenegaraan. Maksudnya Sri Sultan dalam pemerintahannya harus welas asih pada rakyatnya.

• Bangsal Agung Panembahan merupakan ruangan yang berada di selatan dan satu meter lebih tinggi dari bangsal Prabayaksa. Fungsinya sebagai singgasana Gusti Panembahan. Ruangan ini masih asli dan belum ada perubahan sejak dibangun tahun 1529. 

• Pungkuran merupakan ruangan serambi yang terletak di belakang Keraton. Tempat ini berfungsi sebagai tempat meletakan sesaji pada waktu peringatan Maulid Nabi Muhamad. 

• Bangunan Dapur Maulud ini berada di depan Kaputren dengan arah hadap timur yang berfungsi sebagai tempat memasak persiapan peringatan Maulid Nabi SAW. 

• Pamburatan merupakan bangunan yang berada di selatan Kaputren. Pambuaran artinya menggurat atau mengerik. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat mengerik kayu-kayu wangi (kayu untuk boreh) untuk kelengkapan selamatan Maulud Nabi SAW.
  

Keprabonan _ Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



Keprabonan termasuk keluarga Keraton Kanoman yang didirikan pada tanggal 1682 oleh Pangeran Raja Adipati Kapronan. Kaprabonan asal kata dari Kaprabuan (Raja) yang mana Kaprabonan ini berfungsi sebagai tempat DINNIYAH, yaitu tempat kegiatan Agama Islam yang diberlakukan untuk komunitas Keraton Kanoman dan juga untuk masyarakat umum. Sampai dengan sekarang kegiatan tersebut masih berjalan dan banyak dikunjungi orang termasuk pengunjung dari Malaysia dan Brunei.

Adapun Pangeran Raja Adipati Kaprabonan, adalah putra sulung dari sultan Kanoman I, yang lebih memilih kepeduliannya terhadap bidang agama ketimbang ke pemerintahan. Tempat ini sampai sekarang dihuni oleh keluarga keturunan Adipati Kaprabonan yang letaknya berdekatan dengan Keraton Kanoman.

Wisata Di Kota Cirebon


Cirebon merupakan tempat pertemuan dari berbagai perbedaan percampuran yang sangat menarik dari budaya masyarakat sunda yang beragama Islam, masyarakat Cina dan Hindu.


Alun alun keraton kanoman

Cirebon mempunyai 4 keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri bangunan keraton di Cirebon ialah selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di taman atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya kerajaan Cirebon.

peramal  


Tempat menarik yang dapat anda kunjungi di kota Cirebon antara lain Keraton Kanoman dan Kasepuhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kelenteng kuno, Wisata Batik Trusmi, Makam Sunan Gunung Jati, Gedung Perundingan Linggarjati dan lain-lain.

Tahu gejrot cirebon

Selain wisata alam dan budaya, Cirebon juga merupakan tempat yang cocok untuk berwisata kuliner, terdapat beraneka ragam makanan khas yang bisa anda cicipi atau anda bawa bulang sebagai oleh-oleh, antara lain sega (nasi) jamblang, sega lengko, empal gentong, docang, tahu gejrot, krupuk mlarat, ketoprak Cirebon, bubur Cirebon, mie koclok Cirebon, dan lain-lain.