SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kirab Festival Nadran ( Pesta Laut ) Cirebon 2014



Pesta Nadran atau biasa disebut juga pesta laut merupakan tradisi masyarakat pesisir pantai Cirebon yang diselenggarakan 1 tahun sekali, diharapkan dengan adanya karnaval semacam ini bisa mendongkrak wisatawan untuk datang ke Cirebon, dan yang lebih penting dengan adanya karnaval seperti ini adalah turut melestarikan tradisi budaya bangsa, khususnya seni dan budaya.  


1



2


3



4



5



6



7



8



9



10



11



12



13



14



15



16



19



20



Selasa, 24 Juni 2014

7 Kampung Adat di Tatar Sunda - Jawa Barat


Di Jawa Barat, masyarakat adat tak hanya berada di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar. Setiap masyarakat adat memiliki ciri khas dan wilayah adatnya masing - masing. Sekalipun beberapa sudah mulai menerima masuknya Teknologi, warga kampung adat ini umumya masih memelihara dan melaksanakan wasiat leluhur secara teguh. Berikut, beberapa kampung adat yang ada di Jawa Barat :

Kampung Cikondang
Kampung Cikondang secara administratif terletak di dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kampung Cikondang ini berbatasan dengan Desa Cikalong dan Desa Cipinang (Kecamatan Cimaung) di sebelah utara, dengan Desa Pulosari di sebelah selatan, dengan desa Tribakti Mulya di sebelah Timur, serta di sebelah barat berbatasan dengan desa Sukamaju. Jarak dari Pusat Kota Bandung ke Kampung Adat Cikondang ini sekitar 38 Kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pangalengan sekitar 11 Kilometer. Dari Kota Bandung ke arah Selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung. Jarak dari ruas jalan Bandung-Pangalengan yang berada di wilayah Kampung Cibiana ke Kampung Cikondang satu kilometer. Sedang dari jalan komplek perkantoran PLTA Cikalong, melewatai bendungan dengan tangga betonnya, selanjutnya melalui Kantor Desa Lamajang sekitar satu setengah kilometer.
Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “Ci” berasal dari kependekan kata “cai” artinya air (sumber air), sedangkan “kondang” adalah nama pohon tadi..

Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Ieluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.
Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu, baik yang tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Cikondang kurang Iebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Kampung Mahmud
Kampung Mahmud berada di Desa Mekar rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Kampung adat ini adalah kampung bersejarah yang dihuni 200 kepala keluarga di area seluas 4 hektar, dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Sang pendiri, Embah Eyang Abdul Manaf, keturunan dari Syarif Hidayatuliah seorang wali yang berasal dari Cirebon, mendirikan kampong ini di pinggiran Sungai Citarum setelah kembali dari haji, di mana beliau mendapat firasat bahwa negerinya akan dijajah oleh bangsa asing (Belanda). Nama Mahmud diberikan sesuai dengan nama tempat Eyang Manaf berdoa ketika berada di Mekah, yakni Gubah Mahmud. Pada jaman penjajahan, tempat ini dimanfaatkan untuk tempat persembunyian yang aman oleh penduduk daerah sekitar. Sampai saat ini, masyarakat Kampung Mahmud sangat mencintai dan menghormati leluhurnya, dengan memelihara makamnya dengan baik, bahkan menempatkannya sebagai makam keramat yang senantiasa diziarahi oleh mereka.

Kampung Urug
Kampung Urug berada di wilayah bogor, sekitar 48 KM dari pusat kota. Kampung adat ini adalah sebuah kampung adat yang masyarakatnya percaya sebagai keturunan Prabu Siliwangi, raja di Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Salah satu bukti yang dianggap mendukung hal itu adalah konstruksi bangunan rumah tradisional di Kampung Urug, yang memiliki ciri sambungan kayu yang sama dengan sambungan kayu yang terdapat pada salah satu bangunan di Cirebon yang juga merupakan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran.

Kata Urug dijadikan nama kampung karena dianggap berasal dari kata "Guru", dengan mengubah cara membaca yang dilakukan dari kiri namun sekarang dibaca dari sebelah kanan. Kata "Guru" berdasarkan etimologi rakyat atau kirata basa adalah akronim dari digugu ditiru. Jadi seorang guru haruslah "digugu dan "ditiru", artinya dipatuhi dan diteladani segala pengajaran dan petuahnya.

Kampung Pulo
Merupakan suatu perkampungan yang terdapat di dalam pulau di tengah kawasan Situ Cangkuang, di Kecamatan leles, kabupaten Garut. Menurut cerita rakyat, masyarakat Kampung Pulo dulunya menganut agama Hindu, lalu Embah Dalem Arif Muhammad singgah di daerah ini karena terpaksa mundur pada saat mengalami kekalahan sewaktu menyerang Belanda. Karena malu kepada Sultan Agung maka Embah Dalem Arif Muhammad tidak mau kembali ke Mataram. Pada saat itu beliau mulai menyebarkan agama Islam pada masyarakat Kampung Pulo. Sampai dengan beliau wafat dan dimakamkandi Kampung Pulo, beliau meinggalkan 6 orang anak dan salah satunya adalah pria. Oleh karena itu di Kampung Pulo didirikan 6 buah rumah adat yang berjajar saling berhadapan masing-masing 3 buah rumah di kiri dan di kanan ditambah dengan sebuah mesjid. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah ataupun dikurangi, serta yang tinggal di dalam rumah tersebut tidak boleh melebihi dari 6 kepala keluarga. Jika seorang anak laki-laki sudah dewasa dan menikah maka paling lambat 2 minggu setelah itu harus segera meninggalkan rumah dan harus keluar dari lingkungan keenam rumah tersebut. Walaupun 100 % dari warga Kampung Pulo beragama Islam, mereka tetap melaksanakan sebagian dari upacara ritual agama Hindu.

Kampung Naga
Kampung Naga berlokasi di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung ini telah lama dikenal sebagai salah satu kampung adat di Jawa Barat. Menurut salah satu versi sejarahnya, Kampung Naga bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kemudian seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke arah barat dan sampai di daerah Neglasari. Di tempat tersebut, Singaparana disebut Sembah Dalem Singaparana oleh masyarakat setempat. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk untuk bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.

Tokoh leluhur Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat setempat adalah Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana atau Eyang Galunggung, yang dimakamkan di sebelah barat Kampung Naga. Makam ini dianggap sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Eyang Singaparna tidak meninggal dunia melainkan hilang tanpa meninggalkan jasad. Di tempat yang dipercaya sebagai tempat hilangnya Eyang Singaparna itu masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan masyarakat Kampung Naga.

Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti Pangeran Kudratullah, yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam,  Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, yang mengusai ilmu kekebalan "kewedukan", Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, yang menguasai ilmu kekuatan fisik "kabedasan", Pangeran Mangkubawang, yang menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan, dan Sunan Gunungjati Kalijaga, yang menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

Lokasi Kampung Naga sendiri tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas alam di sebelah barat berupa hutan yang dianggap keramat karena terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi Sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga.

Kampung Kuta
Kampung yang konon sempat dicalonkan sebagai ibukota Kerajaan Galuh ini dikelilingi oleh perbukitan (kuta = tembok), dari mana namanya berasal. Yang unik di sini adalah pelapisan sosial yang didasarkan pada status dan peran; golongan yang memimpin secara formal menduduki jabatan tertentu dalam lembaga pemerintahan desa seperti kepala desa, kepala dusun, ketua RW, dan ketua RT, sedangkan pimpinan non-formal adalah pimpinan berdasarkan penghormatan dan penghargaan masyarakat terhadap seseorang karena alasan usia, pengalaman, pengetahuan, dan peran di lingkungannya (dikenal dengan sebutan sesepuh dan kuncen).

Walau masyarakat Kampung Kuta terikat pada aturan-aturan adat, mereka mengenal dan menggemari berbagai kesenian, baik tradisional maupun modern seperti calung, reog, sandiwara (drama Sunda), tagoni (terbang), kliningan, jaipongan, kasidah, ronggeng, sampai dangdut. Anda dapat menyaksikannya pada saat selamatan/hajatan, terutama hajatan perkawinan dan penerimaan tamu kampung.

Kampung Dukuh
Kampung Dukuh berlokasi di Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Dalam kisah tradisi yang dipercayai masyarakat setempat bahwa yang berjasa sebagai pendiri Kampung Dukuh adalah Syekh Abdul Jalil.

Menurut cerita nama dukuh diambil dari bahasa Sunda yang berarti tukuh (kukuh, patuh, teguh), dalam mempertahankan apa yang yang menjadi miliknya, atau taat dan sangat patuh menjalankan tradisi warisan nenek moyangnya. Menurut penuturan (2006) Lukmanul Hakim, Juru Kunci (Kuncen) Kampung Dukuh istilah dukuh berasal dari padukuhan atau dukuh = calik = duduk. Jadi padukuhan sama dengan pacalikan atau tempat bermukim.

Kampung Dukuh merupakan kesatuan pemukiman yang mengelompok, terdiri atas beberapa puluh rumah yang berjajar pada kemiringan tanah yang bertingkat. Pada tiap tingkatan terdapat sederetan rumah yang membujur dari arah barat ke timur. Letak antar rumah hampir berdempetan, sehingga jalan kampung terletak di sela-sela rumah penduduk berupa jalan setapak. Kampung Dukuh terdiri atas dua daerah pemukiman yaitu Dukuh Luar (Dukuh Landeuh = bawah) dan Dukuh Dalam (Dukuh Tonggoh = atas). Selain Dukuh Luar dan Dukuh Dalam, terdapat wilayah lain yang bernama Tanah Karomah (tanah keramat). Di dalam wilayah Tanah Karomah terdapat Makam Karomah (makam keramat). Di antara ketiga wilayah ini dibatasi oleh pagar tanaman. 

Sejarah Yogyakarta


Sejarah Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta, INDONESIA



























    Dalam perkembangannya, DIY mengalami tahapan kehidupan dari masa ke masa. Pertama, masa Prasejarah yang jejaknya banyak ditemukan di Gunung Kidul dan Bantul. Kedua, periode klasik atau masa Hindu-Budha, masa dimulainya pemerintahan berbentuk kerajaan. Hingga akhirnya pengaruh Islam masuk ke Indonesia. Lalu muncul kekuatan politik baru yaitu Kerajaan Mataram Islam dengan pusat pemerintahan yang berada di Kota Gede yang termasuk ke dalam wilayah DIY.

    Bermula dari berkuasanya Kerajaan MataramIslam yang menjadi cikal bakal Kesultanan Yogyakarta yang sekarang. Kerajaan Mataram ini dipimpin oleh Ki Ageng Pemanahan pada abad ke-17. Ia memiliki gelar Panembahan Senopati. Namun, kepemimpinannya tidak berlangsung lama karena ia meninggal enam tahun kemudian.

    Kekuasan akhirnya jatuh ke tangan anak lelaki Panembahan Senopati yang bernama Pangeran Jolang. Pada tahun 1613 M, ia meninggal ketika berburu di hutan. Sebelum masa pemerintahannya berakhir, ia sempat menjalin hubungan dagang dengan Belanda. Pemerintahan kemudian dipegang oleh Sultan Agung. Awalnya, hubungan dengan Belanda berjalan semakin baik. Kemudian Sultan Agung merasa janggal dan berusaha menaklukkan Belanda, namun pasukannya kalah oleh kurangnya logistik, timbulnya berbagai penyakit, serta penggunaan senjata api oleh sekutu.

    Pada tahun 1647 M, pemerintahan dipegang oleh Sunan Amangkurat I yang terkenal arogan dan sewenang-wenang. Ia bahkan tega membunuh adiknya sendiri, Pangeran Alit, karena tak sepaham dengan kebijakan politik pemerintahannya. Banyak pihak yang akhirnya melepaskan diri dari pemerintahan Sunan. Hal tersebut malah membuat Belanda memberikan dukungannya lewat VOC. Akhirnya, rakyat kehilangan simpati dan mulai melakukan perlawanan. Sunan melarikan diri ke arah barat untuk minta bantuan VOC. Tanggal 10 Juli 1677, ia meninggal dalam pelariannya.

    Kekuasaan jatuh di tangan Sunan Amangkurat II, ia mewarisi kekuasaan dari ayahnya dengan tetap menjalin hubungan dengan VOC. Bahkan, disebutkan pula dalam Babad Tanah Jawi bahwa ia berpakaian gaya Belanda setiap hari dan tidak terpisahkan dengan Belanda. Kerja sama tersebut sebenarnya tidak saling menguntungkan. VOC menarik biaya perang bahkan meminta sebagian wilayah Jawa ketika dimintai bantuan oleh pihak kerajaan.

    Di lain sisi, Pangeran Puger, saudara Sunan Amangkurat II yang berkedudukan di Plered tidak mau mengakuinya sebagai raja Mataram. Kemurkaan Sunan berujung pada penyerangan Mataram ke Plered, November 1680. Pangeran Puger kemudian mundur dari perseteruan dan mengakui kedaulatan saudaranya.

    Selanjutnya, secara berurutan kekuasan dipegang oleh Sunan Amangkurat III, Sunan Paku Buwana I, Sunan Amangkurat IV, dan Sunan Paku Buwana II. Pada masa-masa ini, pemerintahan Mataram semakin labil. Pemerintahan yang berpusat di Kartasura Adiningrat kemudian berpindah ke Surakarta akibat pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat yang benci penguasa. Ternyata keadaan tidak semakin membaik di Surakarta dan berujung pada berakhirnya dinasti Mataram.

    Kekuasaan dinasti Mataram berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada tahun 1755 M. Perjanjian Giyanti menghasilkan kesepakatan dipecahnya kekuasaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I, sedangkan Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sunan Paku Buwono III.

    Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, orang Cina mulai datang dan bermukim di Yogyakarta. Mereka mempunyai kepentingan untuk berdagang dan dianggap menguntungkan bagi pihak Kasultanan. Untuk itulah akhirnya ditunjuk beberapa Kapiten Cina untuk mengurus kepentingan orang-orang Cina di Yogyakarta. Bahkan Kapiten Cina Tan Jin Sing mendapat anugerah gelar KRMT Secodiningrat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono III.

    Pemerintahan-pemerintahan selanjutnya merupakan masa sulita bagi Kasultanan Yogyakarta. Hingga akhirnya pada periode pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1821), Kasultanan mengalami masa kondusif. Dilanjutkan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII, pembangunan dan penyempurnaan lingkungan kraton tetap dilaksanakan.
    Setelah naik tahta pada tahun 1940, Sultan Hamengku Buwono IX mengadakan pembaharuan-pembaharuan birokrasi di kraton. Beliau dan Sri Paku Alam VIII mengeluarkan Maklumat 5 September 1945 dan Amanat 30 Oktober 1945 yang menegaskan, baik Kasultanan maupun Pakualaman merupakan Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi bagian dari Republik Indonesia, serta membentuk satu Badan Pekerja sebagai wakil rakyatnya.

    Saat ini, dalam bidang pemerintahan Republik Indonesia, Sultan Hamengku Buwono bersama Sri Paku Alam menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Jabatan yang didasarkan pada pertimbangan historis, yuridis, dan kondisi realita masyrakat Yogyakarta secara luas.

    Rabu, 11 Juni 2014

    Wayang Babad_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



    Pagelaran Wayang Babad merupakan terobosan unik seorang dalang wayang kulit ternama asal Desa Cangkring, Kabupaten Cirebon, Askadi Sastrasuganda yang dijuluki Mamae Titin. Wayang Babad akana menuturkan pada Anda kisah pemisahan Kerajaan Cirebon dari Kerajaan Pajajaran yang ditandai dengan penancapan payung agung di Pakungwati (Kasepuhan), dengan kata lain merupakan kisah penegasan berdirinya Kerajaan Islam Cirebon.

    Wayang Babad ini dimaksud Askadi sebagai seni adiluhung untuk mengembalikan wayang sebagai media dakwah seperti dilakukan para wali pada masanya. Untuk mengembalikan posisi wayang sebagai sarana dakwah kepada masyarakat, nayaga mengenakan kostum ala santri, dan sinden mengenakan jilbab. Pertunjukkannya pun disisipi syair-syair islami seperti salawat dan do'a.

    Waditra yang digunakan adalah gamelan salendro dan pelog, genjring

    Wayang Cepak Cirebon_Cirebon, Jawa Barat. Indonesia



    Salah satu jenis kesenian Cirebon bernama unik lainnya yang akan Anda jumpai di wilayah ini. Disebut juga dengan Cepak/Papak, wayang ini terbuat dari kayu yang ujungnya tidak runcing (cepak=bahasa Sunda/papak=bahasa Jawa). Apabila dilihat dari bentuk dan wandanya, wayang cepak merupakan pengembangan dari wayang kulit, wayang golek atau wayang menak yang berpusat di daerah Cirebon. 

    Wayang cepak biasanya membawakan lakon-lakon menak, panji, cerita-cerita babad, legenda dan mitos. 
    Pertunjukkan wayang cepak hanya terbatas pada upacara adat seperti ngunjung buyut (nadran), acara kaul dan ruwatan (ngaruat), yaitu menjauhkan marabahaya dari diri sukerta (orang yang diruwat). Dalam pertunjukkannya di masyarakat, wayang cepak Cirebon memiliki struktur yang baku. Adapun susunan adegan secara umum, sebagai berikut: 

    1) Tatalu, dalang dan sinden naik panggung, gending jejer/kawit, murwa, nyandra, suluk/kakawen, dan biantara; 2) Babak unjal, paseban, dan bebegalan; 
    3) Nagara sejen;
    4) Patepah; 
    5) Perang gagal;
    6) Panakawan/goro-goro;
    7) Perang kembang; 
    8) Perang raket; dan 
    9) Tutug. 

    Waditra yang mengiringi Wayang Cepak meliputi gambang, gender, suling, saron I, saron II, bonang, kendang, gong, peking, jengglong, dan ketuk.